اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ عَافَانِيْ فِيْ جَسَدِيْ، وَرَدَّ عَلَيَّ رُوْحِيْ، وَأَذِنَ لِيْ بِذِكْرِهِ
Alhamdulillaahil-ladzii 'aafaanii fii jasadii, wa rodda 'alayya ruuhii, wa adzina lii bidzikrih.
“Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesehatan(2) pada jasadku dan mengembalikan ruhku kepadaku(3) serta mengizinkanku untuk berdzikir kepada-Nya(4).” (5)
(2) Yaitu keselamatan dari penyakit dan ujian. (lihat: Faidhul Qadiir 1/280)
(3) Yaitu mengembalikan ruhku yang terpisah ketika tidur. (Tuhfatul Ahwadzi 9/245)
Dan Al-Munawi berkata bahwa maksud dari doa ini adalah segala puji kepada Dzat yang telah mengembalikan indra perasaku, karena tidur adalah saudara kematian sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta'ala firmankan,
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا ۖ فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir” (QS. Az-Zumar: 42)
Dan dikatakan bahwa tidur adalah kematian yang ringan dan kematian adalah tidur yang berat. (lihat: Faidhul Qadiir 1/280)
(4) Yaitu dengan membangkitkan hatiku dan membuat lidahku berzikir. (lihat: Faidhul Qadiir 1/280)
(5) HR. At-Tirmidzi no. 3401 dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan