اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
Allahumma anta rabbi la ilaha illa anta khalaqtani wa ana 'abduka Wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu A'udzu bika min syarri ma shana'tu. Abu'u laka bini'matika 'alayya wa abu'u laka bidzanbi Faghfirli innahu la yaghfirudz dzunuba illa anta
Artinya : “Ya Allah! Engkau adalah Rabb ku, tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku akan setia pada perjanjianku dengan-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang aku perbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui memikul dosaku. Karena itu, ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau."(9)
بَاءَ فُلاَنٌ بِذَنْبِهِ إِذَا احْتَمَلَهُ كُرْهاً لاَ يَسْتَطِيْعُ دَفْعَهُ عَنْ نَفْسِهِ
“Orang Arab berkata : “Si fulan mengakui memikul dosanya” yaitu jika ia memikulnya dalam kondisi ia membencinya, hanya saja ia tidak mampu untuk menolak hal tersebut dari dirinya” (Ma’aalim As-Sunan 4/145). Ini menjelaskan betapa banyak dosa yang kita lakukan dalam kondisi kita sadar bahwa itu merupakan dosa, dan kita benci terjerumus dalam dosa tersebut, akan tetapi kita tidak mampu untuk melepaskan diri dari dosa tersebut. (Karena itu, ampunilah aku) yaitu ampuni seluruh dosaku dengan rahmatMu yang luas, rahmatMu kepadaku yang melebihi kasih sayang ibuku kepadaku. Dosa sebesar apapun, sebanyak apapun, meskipun dilakukan berulang-ulang, maka tidak ada yang sulit untuk Engkau ampuni jika telah bertaubat, karena Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(9) HR al-Bukhari no.6306