اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَدَنِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ سَمْعِيْ، اَللَّهُمَّ عَافِنِيْ فِيْ بَصَرِيْ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ.
Allahumma 'aafinii fii badanii, Allahumma 'aafinii fii sam'ii, Allahumma 'aafinii fii bashorii, Laa ilaaha illa anta. Allahumma innii a'uudzubika minal kufri wal faqr, Allahumma innii a'uudzubika min'adzabilqobr, Laa ilaha illa anta
“Ya Allah, berilah keselematan pada badanku. Ya Allah, berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya Allah berilah keselamatan pada penglihatanku, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, tiada Ilah (yang berhak disembah) kecuali Engkau.” (11 )
اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا
“Ya Allah, berilah kenikmatan kepada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami” (Dihasankan oleh Al-Albani dalam takhriij Al-Kalim At-Toyyib no 226) (lihat Faidul Qodiir 2/135) Diantara keselamatan pada pendengaran dan penglihatan adalah keselamatan dari maksiat, agar pendengaran tidak digunakan untuk mendengar kemaksiatan dan penglihatan tidak digunakan untuk melihat hal-hal yang dilarang oleh Allah.)(11)HR. Abu Daud no. 5090, Ahmad dalam Musnadnya no. 20430, al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrod no.701, dan dihasankan (hasan lighoirihi) oleh Al-Albani, Syu’aib Al-Arna’uth dan para pentahqiq al-Musnad karena mutabaah dan syawahid.