Bacaan Takbir

﴿١﴾اَللهُ أَكْبَرُ ﴿٢﴾اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ ﴿٣﴾اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَ اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ عَلَى مَا هَدَانَا ﴿٤﴾تَكْبِيرًا اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَى وَأَجَلُّ مِنْ أَنْ تَكُونَ لَكَ صَاحِبَةٌ أَوْ يَكُونَ لَكَ وَلَدٌ أَوْ يَكُونَ لَكَ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ أَوْ يَكُونَ لَكَ وَلِيٍّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا، اللَّهُمَّ ارْحَمْنَا ﴿٥(اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدَّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ ﴿٦﴾اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ، وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ عَلَى مَا هَدَانَا اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا لَك مِنْ الشَّاكِرِينَ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ

1. Allahu akbar 2. Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamd (1) 3. Allaahu akbar, allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamd (2) 4. Allaahu akbar, allaahu akbar, allaahu akbar, wa lillaahil hamd, allaahu akbar wa ajallu, allaahu akbar ‘alaa maa hadaanaa (3) 5. Takbiiron allaahumma anta a’laa wa ajallu min an takuuna laka shoohibatun aw yakuuna laka waladun, aw yakuuna laka syariikun fil mulki aw yakuuna laka waliyyun minadz dzulli wa kabbirhu takbiiron, allaahummaghfir lanaa, allaahummarhamnaa (4) 5.Allaahu akbar kabiiro, wal hamdu lillaahi katsiiro, wa subhanallahi bukrotan wa ashiila, allaahu akbar, wa laa na’budu ilallahu mukhlishiina lahud diin, w alau karihal kaafiruun, laa ilaaha illallaahu wahdahu, shodaqo wa’dah, wa nashoro ‘abdah, wa hazamal ahzaaba wahdah, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar (1) 6. Allahu akbar, allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahil hamdu ‘alaa maa hadaanaa, allaahummaj’alnaa laka minasy syaakiriin Allaahu akbar kabiiron wal hamdulillaahi katsiiron, wa subhanallahi bukrotan wa ashiilaa, wa laa haul awa laa quwwata ilaa billaah (2)

"Allah Maha Besar." "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah." "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah." "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah. Allah Maha Besar dan Maha Agung. Allah Maha Besar atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepada kita." "Sebesar-besarnya pengagungan. Ya Allah, Engkau Maha Tinggi dan Maha Agung, jauh dari memiliki istri atau anak, atau memiliki sekutu dalam kerajaan-Mu, atau memiliki pelindung karena kelemahan. Maka agungkanlah Dia dengan sebenar-benarnya pengagungan. Ya Allah, ampunilah kami, Ya Allah, rahmatilah kami." "Allah Maha Besar dengan kebesaran yang agung. Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak. Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang." "Allah Maha Besar, dan kami tidak menyembah selain Allah dengan keikhlasan dalam beragama kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir membenci." Tidak ada Tuhan selain Allah, satu-satunya. Dia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan pasukan musuh sendirian." "Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar." Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepada kita. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur kepada-Mu." "Allah Maha Besar dengan kebesaran yang agung, segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, Maha Suci Allah di waktu pagi dan petang, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."

Penjelasan

Kandungan

4.Membiasakan takbir sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam lebih baik dari membebaskan seratus budak . (2)(2) Hal ini berdasarkan hadits

وَمَنْ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا، كَانَ أَفْضَلَ مِنْ عِتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ

“dan barang siapa yang mengucapkan “allaahu akbar” sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam maka ini lebih utama dari membebaskan seratus budak.” HR. An-Nasai no. 10588 dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubro. Dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan. (lihat: Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 658)])

1.3 Waktu-Waktu Bertakbir Yang Dianjurkan Untuk Bertakbir

Pada asalnya bertakbir boleh diucapkan kapan saja, namun dalam kondisi tertentu takbir disunnahkan bahkan wajib, di antaranya:

1.Ketika dzikir pagi dan petang. (3)

2.Ketika adzan

3.Ketika shalat

4.Ketika hari raya

5.Ketika dzikir setelah shalat

6.Ketika berjalan menanjak (4)

7.Ketika menyembelih hewan qurban (1)

8.Ketika mendapatkan kabar yang menggembirakan (2)

9.Ketika thowaf ketika mendatangi hajar aswad (3)

Keutamaan

Referensi

(1) Majmuu’ Al-Fataawaa 10/253])

(1) Berdasarkan riwayat Abu Dzar:

«يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ، فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ، وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ، وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ، وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى»

"Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma'ruf nahyi mungkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha." HR. Muslim no. 720

(1) Hal ini berdasarkan hadits Anas:

ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ، وَسَمَّى وَكَبَّرَ، وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

“Nabi shallallahu’alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba jantan putih kehitaman lagi bertanduk, beliau menyembelih keduanya dengan tangannya, beliau mengucapkan bismillah serta bertakbir, dan beliau meletakkan kakinya di antara leher dan badan kedua hewan tersebut” HR. Bukhori no. 5565 dan Muslim no. 1966

(1) HR. Ad-Daruquthny dalam sunannya no. 1737

(1) Al-Umm 1/276

(2) Majmuu’ Al-Fataawaa 5/239

(2) Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali:

أَنَّ فَاطِمَةَ، اشْتَكَتْ مَا تَلْقَى مِنَ الرَّحَى فِي يَدِهَا، وَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَانْطَلَقَتْ، فَلَمْ تَجِدْهُ وَلَقِيَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ إِلَيْهَا، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْنَا نَقُومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَى مَكَانِكُمَا» فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمِهِ عَلَى صَدْرِي، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا، إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ»،

Bahwasanya Fatimah merasakan tapak tangannya mengeras karena menumbuk tepung. Dan seorang pelayan mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Fatimah pergi mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam namun tidak mendapatinya, lalu ia bertemu dengan ‘Aisyah. Kemudian Fatimah berpesan kepada ‘Aisyah agar disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di rumah, ‘Aisyah pun memberitahu beliau shallallahu alaihi wasallam tentang kedatangan Fatimah. Lalu Rasulullah pergi ke rumah kami ketika kami sedang berbaring hendak tidur. Kamipun segera bangun, tetapi beliau shallallahu alaihi wasallam mencegahnya dan bersabda : ‘Tetaplah di tempat kamu! Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di antara kami sehingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau yang menyentuh dada-ku. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Inginkah kalian berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? Apabila kalian berbaring hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kamu daripada seorang pembantu.” HR. Muslim no. 2727])

(2) Hal ini berdasarkan hadits

وَمَنْ قَالَ: اللهُ أَكْبَرُ مِائَةَ مَرَّةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا، كَانَ أَفْضَلَ مِنْ عِتْقِ مِائَةِ رَقَبَةٍ

“dan barang siapa yang mengucapkan “allaahu akbar” sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam maka ini lebih utama dari membebaskan seratus budak.” HR. An-Nasai no. 10588 dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubro. Dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan. (lihat: Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 658)

(2) Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا رُبُعَ أَهْلِ الجَنَّةِ " فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا ثُلُثَ أَهْلِ الجَنَّةِ» فَكَبَّرْنَا، فَقَالَ: «أَرْجُو أَنْ تَكُونُوا نِصْفَ أَهْلِ الجَنَّةِ» فَكَبَّرْنَا

“Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku berharap kalian menjadi seperempat penghuni surga”. Maka kami bertakbir. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara sepertiga penghuni surga”. Maka kami bertakbir lagi. Kemudian Beliau bersabda lagi: “Aku berharap kalian menjadi di antara setengah penghuni surga”. Maka kami bertakbir sekali lagi.” HR. Bukhori no. 3348

(2) HR. Al-Baghowi dalam Syarhu As-Sunnah 4/300

(2) At-Taaj wal Ikliil li Mukhtashor Kholiil 2/577

(3) Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di tafsirnya, dan pada sanadnya ada Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan ia adalah perawi yang lemah, selain itu Zaid adalah seorang tabií, maka haditsnya mursal

(3) HR. An-Nasai no. 10588 dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubro. Dan Al-Albani mengatakan hadits ini hasan. (lihat: Shohih At-Targhib wa At-Tarhib no. 658)

(3) Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Abbas,

طَافَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْبَيْتِ عَلَى بَعِيرٍ، كُلَّمَا أَتَى الرُّكْنَ أَشَارَ إِلَيْهِ بِشَيْءٍ كَانَ عِنْدَهُ وَكَبَّرَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan thawaf di baitullah (ka’bah) di atas untanya. Setiap kali beliau melewati ar-rukun (hajar aswad), beliau berisyarat kepadanya dengan sesuatu yang ada pada beliau, lalu bertakbir” HR. Bukhori 1613

(3) HR. Al-Baihaqy dalam As-Sunan Al-Kubroo no. 6352

(4)Diriwayatkan oleh Abu Nuáim di al-Hilyah (1/166), Abu As-Syaikh di al-Ádzomah (2/648-649), dan Al-Baihaqi di al-Asmaa wa as-Shifaat (2/300-301). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani di as-Shahihah (no 109) karena banyak jalannya.

(5) Lihat penjelasan Asy-Syaikh Abdurrozza al-Badr di Fiqh Al-Adíyah wal Adzkaar 1/289

(2) Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Ali:

أَنَّ فَاطِمَةَ، اشْتَكَتْ مَا تَلْقَى مِنَ الرَّحَى فِي يَدِهَا، وَأَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْيٌ، فَانْطَلَقَتْ، فَلَمْ تَجِدْهُ وَلَقِيَتْ عَائِشَةَ، فَأَخْبَرَتْهَا فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَخْبَرَتْهُ عَائِشَةُ بِمَجِيءِ فَاطِمَةَ إِلَيْهَا، فَجَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْنَا، وَقَدْ أَخَذْنَا مَضَاجِعَنَا، فَذَهَبْنَا نَقُومُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَى مَكَانِكُمَا» فَقَعَدَ بَيْنَنَا حَتَّى وَجَدْتُ بَرْدَ قَدَمِهِ عَلَى صَدْرِي، ثُمَّ قَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكُمَا خَيْرًا مِمَّا سَأَلْتُمَا، إِذَا أَخَذْتُمَا مَضَاجِعَكُمَا، أَنْ تُكَبِّرَا اللهَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ، وَتُسَبِّحَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَتَحْمَدَاهُ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، فَهْوَ خَيْرٌ لَكُمَا مِنْ خَادِمٍ»،

Bahwasanya Fatimah merasakan tapak tangannya mengeras karena menumbuk tepung. Dan seorang pelayan mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu Fatimah pergi mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam namun tidak mendapatinya, lalu ia bertemu dengan ‘Aisyah. Kemudian Fatimah berpesan kepada ‘Aisyah agar disampaikan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tiba di rumah, ‘Aisyah pun memberitahu beliau shallallahu alaihi wasallam tentang kedatangan Fatimah. Lalu Rasulullah pergi ke rumah kami ketika kami sedang berbaring hendak tidur. Kamipun segera bangun, tetapi beliau shallallahu alaihi wasallam mencegahnya dan bersabda : ‘Tetaplah di tempat kamu! Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wasallam duduk di antara kami sehingga aku merasakan dinginnya telapak kaki beliau yang menyentuh dada-ku. Setelah itu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Inginkah kalian berdua aku ajarkan sesuatu yang lebih baik daripada apa yang kamu minta? Apabila kalian berbaring hendak tidur, bacalah takbir (Allahu Akbar) tiga puluh empat kali, tasbih (Subhanallah) tiga puluh tiga kali, dan tahmid (Alhamdulillah) tiga puluh tiga kali. Sesungguhnya yang demikian itu lebih baik bagi kamu daripada seorang pembantu.” HR. Muslim no. 2727

(4) Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah

«كُنَّا إِذَا صَعِدْنَا كَبَّرْنَا، وَإِذَا نَزَلْنَا سَبَّحْنَا»

“bahwasanya kami dahulu bertakbir jika berjalan menanjak dan kami bertasbih jika kami berjalan menurun.” HR. Bukhori no. 2993

(4) HR. Al-Baihaqy dalam kitabnya Fadhoil Al-Awqhoot no. 227

Dan dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar bahwa bacaan takbir ini adalah yang paling shohih. (lihat: Fathul Baari 2/462)

As-Shon’ani berkata dalam menjelaskan tentang banyaknya lafal-lafal takbir:

وَفِي الشَّرْحِ صِفَاتٌ كَثِيرَةٌ وَاسْتِحْسَانَاتٌ عَنْ عِدَّةٍ مِنْ الْأَئِمَّةِ، وَهُوَ يَدُلُّ عَلَى التَّوْسِعَةِ فِي الْأَمْرِ، وَإِطْلَاقُ الْآيَةِ يَقْتَضِي ذَلِكَ

“dalam syarah terdapat banyak tata cara yang banyak dan istihsan dari banyak para ulama, dan ini menunjukkan akan lapangnya perkara ini, dan mutlaknya ayat menunjukkan hal itu.” (Subulus Salaam hal: 438)